Ada sebuah cerita tentang 2 Orang yang melamar kerja. Yang satu sebagai Pengemudi dan satunya lagi sebagai Teknisi. Mereka sama-sama mulai karir dari nol dengan pendidikan yang setara. Yang satu lulusan SMA dan yang satunya lulusan STM.
Setelah 15 tahun berlalu, Si Pengemudi tetap menjadi Pengemudi dengan pendapatan yang tetap setara dengan 15 tahun lalu. Sedangkan teknisi kini sudah menjadi Direktur Utama dengan pendapatan yang jauh di atas pendapatannya 15 tahun lalu.
Mengapa bisa terjadi seperti ini? Apakah yang membuat penghasilan mereka berbeda secara mencolok? padahal mereka mulai dengan modal yang hampir sama.
Ternyata Si Pengemudi beranggapan bahwa dia sudah ditakdirkan Tuhan untuk memiliki Darah orang kecil. Dari kakek, ayah, hingga saudara-saudaranya memang hanya menjadi orang kecil sejak dahulu. Sehingga ia diajarkan untuk tidak memiliki keinginan macam-macam agar tidak stres dan harus bersyukur dengan pendapatan berapapun yang ia terima.
Sedangkan si teknisi, ia menjalani karirnya dengan semangat untuk menjadi orang besar. Dia bekerja dengan sangat rajin, teliti, berkompeten, mau belajar hal-hal baru, ringan tangan membantu rekan-rekannya yang lain, serta mempunyai inisiatif tinggi untuk membawa perusahaan tempat ia bekerja menjadi lebih maju dan berhasil.
Sampai suatu hari, ketika pimpinan perusahaan yang lama harus menangani perusahaan lain yang lebih besar dan butuh memerlukan penggantinya, ia yang dipilih, dengan alasan bahwa ialah orang yang paling tahu dan paling menguasai operasional perusahaan ini secara detail.
Nah, bagaimana kita mengambil kesimpulan dari cerita diatas? Apakah kesuksesan seseorang ditentukan oleh darah orang tua mereka? (mana ada teori demikian) Jadi faktor apakah yang menentukan kesuksesan?
Dari cerita diatas, salah satu pelajaran yang dapat kita ambil adalah, kesuksesan ditentukan oleh sikap kita, bagaimana kita melakukan yang terbaik dalam pekerjaan kita, yakin akan berhasil, dan pantang menyerah.
Selama ini ternyata masyarakat kita banyak yang dikerdilkan oleh kepercayaan dan keyakinan yang salah yang tertanam dalam benak mereka. Mereka beranggapan bahwa mereka sudah ditakdirkan menjadi orang kecil, Sehingga menjadi budaya mereka untuk tidak mempunyai keinginan macam-macam, tidak bercita-cita tinggi, dan menerima hidup yang alakadarnya tanpa usaha lebih untuk menjadikan hidup lebih berkualitas.
Bagaimanapun keadaannya, sukses merupakan hak setiap orang. Tuhan memberi kesempatan yang sama kepada setiap makhluknya untuk berusaha mencari kesuksesan dalam hidupnya. Sudahkah kesempatan ini kita manfaatkan?





Betul mas, kesuksesan itu bukan karena keturunan tapi kerja keras dan semangat tinggi (motivasi dan inspirasi) dalam meraihnya :siip:
Makin cerdas kamu, Mif . . . . ^^
M0ga bisa jadi lect0r pemancar dari tulisanmu itu . . . .
jadi semangat bisnis online habis baca artikel ini. . .
luar biasa. visi yang diterjemahkan ke dalam strategi memang sangat dahsyat mempengaruhi arah kehidupan kita..
luar biasa mas boz…
spurane mas postinganku bikin anda kesal…
kwkwkwkwk….
mantap…matur nuwun mas..
salam peace
Good post… I’m always on the lookout for good blogs.
Setuju mas, kesuksesan dan kekayaan itu bukan cuma ada di kantong saja, katanya. Tapi ada di otak dan hati.
Salam
Mantav…
Mas bos…
mantap mas….. seep!!
lha sing digoleki kuwi duwik opo tentrem?
sukses kuwi duwik opo tentrem?
dadi nek menurutku yo tergantung, sing pengemudi yo iso sukses, soale dee ayem dadi pengemudi. Kecuali nek dee sambat. Toh kalau dibandingkan pinter mana sama teknisi, untuk urusan arah jalan, tentu pengemudi lebih mahir bin faham.
So, THE POINT IS: CINTAILAH PEKERJAANMU
@Manginfera.com: Ya, sepakat Mas…!!!
@Electra: Amiiin… Thanks ya!
@techno:
Itulah tujuannya aku nulis ini
@deteksi: Memiliki Visi dan Strategi sebagai Misinya ditunjang dengan motivasi akan membuat kita bekerja dengan penuh semangat dan suka cita
@mubaroki: Thanks dik boz!
Aku ga’ kesal, cuma meluruskan aja kq
@andipeace: Sami-sami… peace juga!
@dian: Sip! Sepakat! Kesuksesan sejati ada dalam diri yang penuh syukur dan terus berusaha menjadi lebih baik lagi
@Mubaroki: Mantav jaya dik boz
@T. Wahyudi: Makasih Mas!
@Mas ndop: Wah, matur suwun Mas wejangane!
gae ngilengne nek Sukses sejati iku ono ing ati… Tapi cerita ini lebih menekankan pada perbandingan pendapatan yang didapat oleh dua orang ini. Kalau aku tulis cerita seluruhnya (yang ini sudah diringkas) sebenarnya, Si Sopir itu juga sambat sama pekerjaannya. Jadi sudah jelas kalau Si Sopir belum sukses seperti Si Teknisi.
Setuju aku ambek “CINTAILAH PEKERJAANMU” Matur Suwun Mas
mas boz the word of pacarannya dah tak ganti koq
Bener…buangeeet mas…
Gue ambil contoh lain…
Seorang petani misalnya…
Ia beranggapan buat apa sekolahin anaknya tinggi2 kalo besarnya nanti paling2 juga jadi petani…
Hmmm..sungguh sebuah pemikiran yang sangat dangkal menurut saya…
Artikel yang bagus
yap benar sekali…
ceritanya benar-benar menginspirasi sob..
Sipz. .oke boz. .